Saturday, July 25, 2020

Idul Adha: Refleksi Cinta pada Allah

Idul Adha, hari besar yang dirayakan umat Islam di seluruh dunia adalah momen bersejarah. Hari yang mengingatkan kita semua tentang rasa cinta yang dibuktikan dengan berkurban. Membagikan sebagian rezeki dengan mengurbankan hewan kurban bagi yang mampu.

Idul Adha yang juga merupakan perayaan wujud cinta pada Allah melalui pengorbanan nabi Ibrahim atas anaknya, Ismail. Rasa cinta dan ketaatan yang terefleksi tanpa syarat. Meski pengorbanan Nabi Ibrahim atas Ismail telah Allah gantikan dengan hewan kurban. Sedikit berbeda dengan pengorbanan nabi Muhammad atas cucunya, Husein as yang tak tergantikan.  

Idul Adha mengingatkan kita tentang kisah Nabi Ibrahim, keluarga, dan keturunannya yang menggetarkan hati. Kisah tentang ketaatan dan penyerahan diri secara total. Refleksi cinta hanya pada 
Allah.

Nah, bicara tentang pengorbanan para nabi dan keturunannya ini pasti akan memberi konsep baru tentang arti cinta. Sebagaimana rasa cinta Siti Hajar atas Ismail yang tak melebihi cintanya pada Allah. Hal yang menjadikannya sampai pada level menerima dan ikhlas saat suaminya, nabi Ibrahim, meminta putra kesayangannya, Ismail untuk dijadikan kurban.



Sungguh, level cinta yang mungkin sulit dilampui oleh manusia yang sudut pandangnya adalah materi.

Cinta yang berbeda maqomnya dibanding cinta pada lawan jenis, cinta pada keluarga, atau cinta pada sesama. Cinta ini melebii dari cinta semesta ini sekalipun. Bahkan melebihi dari yang kita ketahui, atau yang bisa kita pahami lewat panca indra.

Menurutku, jika posisi Siti Hajar diberikan pada orang yang cinta dunia, niscaya tak akan ada hari raya Idul Adha. Tak akan ada cinta yang bertebar di dunia bagi seluruh umat karena kerelaan berkurban. Bahkan, mungkin tak akan ada tanah haram, Mekkah. 

Tapi, Maha suci Allah dengan segala firman-Nya.. kekuasaan dan kasih sayang-Nya menjadikan Siti Hajar mampu bersabar dengan ujian Allah tersebut. Kesabaran akan ujian yang melibatkan rasa percaya pada Allah yang kuat. Iman yang kokoh.

Mungkin inilah yang menjadikan Allah menganugrahi rahmat bagi Siti Hajar sebagai ibu seorang nabi besar, Ismail yang kelak dari garis keturunannya akan lahir penutup para nabi. Nabi Muhammad Saw. Suluh umat.

Bahkan, keistimewaan Siti Hajar yang merupakan keturunan salah satu Firaun di Mesir ini, bisa terlihat dari pengabdiannya sebagai seorang istri. Ia rela ditinggalkan di tanah tak bertuan. Tanpa makanan dan tempat berteduh. Kecuali hanya pada Allah.

Aku tak bisa membayangkan kondisi Siti Hajar pada saat itu. Hingga aku pun mengulik sedikit tentang Siti Hajar. Wanita pilihan yang meninggalkan gemerlapnya gelar kebangsawan demi memilih jalan tauhid.



Sejarah Siti Hajar

Menurut sejarah, Siti Hajar yang merupakan putri raja Mesir ini begitu mengagumi mukjizat Nabi Ibrahim. Dikatakan oleh Midrash, Hajar atau Hagar adalah gelar yang diberikan padanya (sang putri). Gelar yang artinya 'reward' atau hadiah.

Siti Hajar yang telah mengimani kenabian Ibrahim rela menukar kesenangan dunia dengan menyerahkan dirinya untuk melayani Nabi Ibrahim. Lalu, Siti Sarah yang telah berumur merelakan Nabi Ibrahim untuk menikahi Siti Hajar agar memperoleh keturunan. 

Sayang, kecemburuan Siti Sarah menjadikannya tak rela hidup bersama madu yang awalnya ia setujui. Siti Sarah meminta Nabi Ibrahim untuk pergi meninggalkan rumahnya. Tanah Palestina.

Ketaatan dan kerelaan Siti Hajar untuk pergi meninggalkan tempat yang ia anggap rumah adalah refleksi cinta pada Allah. Rasa cinta yang terwujud dengan kepatuhan pada suami yang juga patuh atas perintah Allah. Totalitas takwa yang dapat kita renungkan.

Mengapa demikian?

Karena semua wanita bisa menjadi Siti Hajar yang patuh pada suaminya. Seorang nabi pilihan Allah. Nabi suci yang dicintai Allah.

Nabi yang keimanannya Allah uji dengan sangat berat. Salah satunya adalah untuk mengurbankan anak yang ia cintai, Ismail. Padahal Nabi Ibrahim telah lama menanti kehadiran anak.

Lalu, bagaimana jika ada pertanyaan seandainya dirimu adalah seorang Siti Hajar?

Mungkin akan ada beberapa opsi sikap yang dimiliki oleh seorang perempuan yang menyadari tentang posisinya sebagai istri sekaligus ibu.. 

  1. Kesadaran penuh bahwa kedudukannya adalah sebagai seorang wanita yang melengkapi kehadiran dari istri pertama agar dapat memiliki keturunan.
  2. Kesadaran sebagai seorang istri yang tugasnya adalah mematuhi suami yang juga patuh pada Allah.
  3. Kesadaran sebagai seorang ibu yang kecintaan pada Allah melebihi cinta pada anak, hingga menjadikannya dapat bersabar.
Bandingkan jika kamu seorang wanita biasa yang bukan Siti Hajar, dan dihadapkan pada masalah ini, kamu pasti sudah panik. Jika suamimu meminta anakmu untuk disembelih dan dikurbankan atas perintah Allah, kamu pasti akan menganggap suamimu gila dan Tuhan tidak adil.

Manusiawi sekali, mengingat tingkat pengetahuan manusia biasa tidak melebihi dari yang ia ketahui. Bukan berarti aku membatasi kemampuan manusia yang berusaha menyucikan diri, tapi umumnya manusia akan memberi respon yang hampir serupa. Sulit menggapai hal yang tak dapat diindrai.

Hal yang mengingatkanku atas istri nabi yang lain, seperti: istri Nabi Luth, istri Nabi Nuh dan istri Nabi Ayyub. Istri-istri nabi yang ketaatannya terbantahkan oleh sikap materialistik. Kecintaan pada dunia yang melebihi cintanya pada Allah.



Selanjutnya, bagaimana tanggapan Ismail atas perintah Allah pada ayahnya?

Kita bisa mendapati jawabannya dalam Alquran,  surat As Saffat ayat 102 yang artinya;

"Maka ketika anak itu sampai  (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, " Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkan bagaimana pendapatmu!
Dia (Ismail) menjawab, "Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar."

Sungguh, hanya ketakwaan pada Allah saja yang dapat menjadikan seseorang meraih level taat seperti ini. Hal yang tak dapat dijangkau jika cinta pada dunia melebihi kecintaan pada Allah. Refleksi cinta yang terwujud oleh ketaatan Ismail pada ayahnya.

Kepatuhan yang Allah hadiahkan dengan rahmat berlimpah, hingga Allah menggantikan Ismail dengan kurban sembelihan yang besar. Moment bersejarah yang Allah abadikan melalui perayaan Idul Adha. Hari besar yang dirayakan umat Islam di seluruh dunia. 

Moment bersejarah untuk menjaga sifat kemanusiaan manusia. Saling mengasihi antar sesama. Sebagaimana hari Raya Idul Adha ini membangkitkan kesadaran kita tentang pentingnya berbagi. Mungkin itulah rahmat yang Allah berikan bagi Siti Hajar, hingga dianugrahi seorang putra, Ismail yang berarti Allah mendengarnya. 

Seorang nabi istimewa yang dari nasabnya tak akan terputus. Bahkan kelak akan lahir nabi besar dari keturunannya, Nabi Muhammad, Sumber dari awal dan akhir sebuah cinta.


Pernyataan ini timbul dari tantangan teman di grup Blog squad mengenai memaknai cinta. Tema yang berat. Sebagaimana jika aku harus berandai - andai sebagai Ismail. Hal yang butuh perenungan, mengingat aku yang fakir ilmu mengenai hal ini.

Aku hanya membayangkan tentang seorang nabi besar mulia yang suci. Nabi yang di usia belianya telah diuji dengan berat dan lulus. Ujian yang membuktikan tentang ketaatan Ismail pada orang tua sebagai wujud cintanya pada Allah.

Mungkin, kecintaan ini akan sulit dicapai oleh orang awam, kecuali orang - orang yang Allah kehendaki. Orang - orang pilihan yang berusaha dengan keras untuk menyucikan diri.

Dengan kata lain, moment Idul Adha ini adalah saat terbaik untuk memahami dan introspeksi diri. Berusaha menyucikan diri melalui kurban harta, menunaikan haji jika mampu, dan selalu beramal soleh. Lalu, terus berdoa agar dimasukkan dalam golongan orang - orang yang beruntung menerima syafaat. Aamiin.

Bandarlampung, 25 Juli 2020

2 comments:

  1. Mungkin andai diriku Ismail, aku tidak akan sekuat beliau yang rela melakukan perintah Allah. Sedangkan sebagai manusia saja aku sering melanggar aturanNya

    ReplyDelete

Mengenal Sejarah Sebagai Bukti Cinta Tanah Air

Bangsa besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. Begitulah slogan yang kuingat dari pemimpin besar Indonesia, Soekarno. Seorang...