Tuesday, 13 October 2020

Review Buku Rambut Sang Nabi Karya Salman Rusdhie

 

review-buku-rambut-sang-nabi

Pernah dengar tentang Salman Rusdhie yang pernah diancam dengan hukuman mati oleh mendiang pemimpin Revolusi Islam Iran di tahun 1990an? Tulisan Salman yang kontrovesial berjudul Ayat-ayat Setan yang dianggap menghina umat Islam di seluruh dunia. Karya Salman ini juga yang bikin ia terkenal.

Sayangnya ketenaran itu mengakibatkan ia jadi buruan banyak orang. Buku itu pun masih jadi perdebatan panas meski telah berlalu tiga puluh tahun. Aku masih ingat gimana  pemuka agama melarang buku ini untuk dibaca. Khawatir mengganggu pemikiran terkait keyakinan. Akidah.

Okey, aku nggak akan ngomongin masalah karya Salman Rushie yang sensitif bagi umat Islam. Aku hanya ingin kasih contoh gimana tulisan itu bisa mengakibatkan reaksi bagi pembacanya. Dampak yang tak terelakkan baik secara budaya dan kepercayaan.

Berbeda dengan karya Salman Rusdie ysng berjudul Ayat-ayat Setan, buku lain miliknya yang berjudul Rambut Sang Nabi mencerminkan kegelisahannya sebagai seorang imigran. Kegelisahannya karena tak bisa pulang ke kampung.

Gambaran tentang kehidupan orang-orang yang tenggelam dalam prasangka, keserakahan, dan nafsu penghambaan akan dunia. Gambaran orang-orang yang merasa terangnya dunia, serta kenikmatannya adalah puncak pencarian. Kegelisahan tanpa batas.

Menurutku, karya Salman Rusdhie ini cocok dibaca buat kamu yang ingin tahu tentang India atau Inggris dari kaca mata anak India. Karyanya mungkin bisa kasih gambaran gimana seorang anak India yang hidup di masa postcolonial. Anak-anak yang gelisah mencari jati dirinya.

Sinopsis Rambut Sang Nabi

Kisah dimulai dengan kematian Eliot Crane. Ia bunuh diri dengan senjata milik ayahnya. Meninggalkan dunia ini dengan gagasannya.

Sebelumnya ia telah melakukan perjalanan bersama istrinya, Lucy Evans yang bekerja di kantor surat kabar. Ia menemukan dirinya dengan gagasan tentang kematian. Cara untuk meninggalkan.

Selanjutnya ada kisah tentang Columbus. Seorang asing yang mengabdi pada Ratu Isabella. Pengandaian tentang posisi seorang penjajah dan terjajah.

Mempermainkan Columbus menyenangkan sang Ratu. Ia memperingatkan diri sendiri dengan  sang Ratu mungkin ia akan terbantu untuk mencapai kehendaknya. Dengan mendengus melata-lata membabi ia dengan kakinya. Giginya digeremus-gerumuskan.” (hal 40)

Sedangkan cerita yang jadi judul buku ini “Rambut Sang Nabi” mengisahkan tentang seorang rentenir yang menemukan sehelai rambut nabi dalam sebuah botol yang hanyut di sungai. Penemuan yang jadi petaka bagi keluarga Hashim.

Ia berubah wataknya setelah hari itu. Bermetamarfosis jadi bully di rumahnya sendiri. Menciptakan rasa takut di hati anak-anaknya.

Mereka pun nekat mendatangi daerah kumuh di Srinagar. Mencari pencuri bayaran bagi benda kesayangan ayah mereka. Pencarian yang berakhir bencana bagi Atta. Ia terluka parah karena dikeroyok preman di sana.

Hashim yang terpesona dengan temuannya tak menyadari dirinya. Ia hanyut dan tenggelam dalam godaan penghambaan. Ia merasa  telah menemukan yang ia cari.

Akibat hal tersebut, petaka pun datang tak henti. Kematian menjadi buah lain dari rambut nabi yang dianggap keramat. Bahkan kegilaan yang menghantui anggota keluarga Hashim yang selamat dari bencana ini.

Diskusi

 

Membaca buku ini jujur saja agak membingungkanku. Mungkin karena penyampaiannya atau pengetahuanku yang kurang tentang Salman Rusdhie. Buku yang bikin aku berpikir bahwa ruang membaca harus lebih luas lagi. 

Terlepas dari itu, buku ini kupikir bisa jadi pertimbangan bacaan bagi kamu yang suka dibingungkan oleh kata-kata. Mengais maksud tersembunyi dari kebingungan. Berharap dapat secercah pesan yang dapat mencerahkan.

Bandarlampung, 14 Oktober 2020


Saturday, 3 October 2020

Manfaat Mengenal Hikayat Kalilah dan Dimnah

Aroma camilan berbumbu kacang yang sedap menyeruak di udara. Beberapa orang terlihat menelan ludah. Membayangkan nikmatnya somay ala pasar tempel yang lezat dan murah.

Kenikmatan yang bakal membekas di hati seperti sebuah cerita.  Hikayat lama seperti Hikayat Kalilah dan Dimnah yang menyuguhkan asupan humor, edukasi, dan motivasi buat kita. Apalagi jika kita mendengarkannya saat masih kanak-kanak.

Bukankah ada dua hal yang paling mengesankan di dunia? Yang pertama adalah makanan yang lezat. Sedangkan yang kedua adalah teman yang baik. 

Makanan lezat akan mengenyangkan. Sementara teman baik akan membuat hidup lebih bahagia. Tak lengkap jika keduanya terpisah. Benar, kan?

manfaat-mengenal-hikayat-kalilah-dan-dimnah-bagi-kita


Pengertian Hikayat

Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa.  Bentuk sastra yang melenakan imajinasi kita. Terlebih bagiku yang senang dengan kisah raja-raja zaman old.

Hikayat juga dianggap memberi pesan moral yang dekat dengan kehidupan kita. Nasehat yang dapat menuntun kita untuk hidup yang lebih baik


Ciri-ciri Hikayat 


Pernah dengar atau membaca cerita yang dimulai dengan, " Pada zaman dahulu kala di sebuah kerajaan...?" Pasti pernah, ya? 

Kalimat itu merupakan salah satu ciri dari hikayat, yaitu: istana sentris. Tak heran jika kita temukan latar cerita adalah kerajaan atau kesultanan. Lengkap dengan raja, ratu, putri, dan pangeran.

Nah, bagi aku yang lahir di tahun 90an merasakan banget euforia dari cerita lama. Sebut saja Hikayat Hang Tuah. Kisah seorang biasa yang jadi laksamana laut terkenal. 

Sementara Hikayat Kalilah dan Dimnah yang berpokok dan beranting yang ditulis oleh seorang pemikir di zamannya. Baidaba. Penulis hikayat yang menulis karya legendaries menggunakan binatang sebagai tokohnya. Sebagaimana orang Hindustani percaya bahwa mereka berasal dari binatang.

Sedangkan ciri-ciri yang lain adalah

  1.  Anonym, artinya hikayat biasanya Tak diketahui pengarangnya. Berbeda dengan Hikayat Kalilah dan Dimnah yang kita tahu ditulis oleh Baidaba.
  2.  Statis adalah sifat lain hikayat. Artinya kisahnya tak ada perubahan nasib berarti pada tokohnya.
  3.  Klise, artinya hikayat biasanya menceritakan hal yang sama berulang-ulang. 
  4. Didaktis. Bersifat mendidik. Memberikan pendidikan moral dan agama dengan perumpamaan yang unik. Seperti hikayat Kalilah dan Dimnah.
  5. Universal. Hikayat menceritakan kehidupan manusia pada umumnya. Artinya, semua orang mungkin pernah mengalaminya. 

Manfaat mengenal Hikayat Lama

Seperti yang kita tahu, hikayat menceritakan kehidupan manusia sehari-hari. Kita pun dapat menarik hikmah dibalik tiap cerita. Lalu, mengamalkannya dalam kehidupan kita.

Adapun manfaat mengenal hikayat lama adalah

  • Menghibur. Hikayat yang berasal dari bahasa Arab "haka" yang berarti menceritakan ini dibuat berdasarkan tujuannya. Misalnya, hikayat Abu Nawas yang hidup di zaman Harun Al Rashid. Jenaka dan menghibur.
  • Mengedukasi. Ada juga Hikayat Kalilah dan Dimnah. Hikayat yang umurnya lebih dari dua abad lalu ini ditulis Baidaba untuk menyadarkan raja Hindustani yang lalim.  
  • Memberi motivasi. 
  • Pembangkit semangat. Kisah dalam Hikayat Kalilah dan Dimnah ini pun menyiratkan bahwa semua orang punya hak sama untuk kebaikan. 
  • Membangun rasa cinta negeri.Tanpa sadar, dengan membaca karya sastra yang indah ini menyadarkan kita akan harga diri bangsa. Kita wajib mencintai karya negeri sendiri. Menumbuhkannya lewat diri kita.
  • Membangun rasa percaya diri dan kepahlawanan. Rasa cinta pada negeri yang tersirat pada hikayat ini akan menimbulkan rasa percaya diri dan kepahlawanan. Rela berkorban. 


Sejarah Hikayat Kalilah dan Dimnah


Kisah ini dimulai dengan seorang guru, Baidaba yang prihatin atas keadaan negerinya. Raja yang lalim menjadikan kondisi rakyat kesusahan. Ia nggak bisa berdiam diri, dan berusaha mengingatkan sang Raja.

Maharaja Dabsyalim murka atas sikap Baidaba yang lancang. Ia menghukum Baidaba. Bahkan berniat membunuhnya.

Namun, raja membatalkan niatnya. Ia hanya memenjarakan Baidaba. Sementara itu, pengikut Baidaba yang ketakutan kabur menyelamatkan diri.

Maharaja yang sebenarnya cerdas ini tak dapat memejamkan matanya. Menyesali perbuatannya. Lalu, ia membebaskan Baidaba dan menjadikannya sebagai penasihatnya.

Maharaja pun meminta Baidaba menulis karya yang dapat ia nikmati. Baidaba menyanggupi dengan syarat waktu dan teman yang dapat membantunya. Baidaba pun mengurung diri selama setahun guna menyelesaikan karya fenomenal di zamannya. Hikayat Kalilah dan Dimnah.

Setelah setahun Baidaba dapat mempresentasikan karyanya di depan Maharaja Dabsyalim dan seluruh negri. Mendengar hikayat ini, Maharaja merasa bangga dan puas. Ia menghadiahkan Baidaba keistimewaan atas kerja kerasnya ini.

Hikayat Kalilah dan Dimnah 

Oya, gaes Hikayat ini kan berpokok dan beranting. Artinya, kita akan temukan dalam hikayat ini berhikayat lagi. So, kita harus fokus bacanya. Kalau tidak, kita mungkin akan bingung.

Aku akan kasih contoh cerita kedua dari Hikayat ini. So, kamu nggak akan bingung seperti aku. Eh, kalau masih bingung, ya baca ulang saja hehe

Dimnah Hendak Menghadap Raja Singa

manfaat-mengenal-tokoh-hkayat-kalilah-dan-dimnah


Di antara berbagai-bagai jenis binatang yang di bawah perintah raja singa itu ada dua ekor bernama Kalilah dan yang seekor lagi bernama Dimnah. Karena melihat raja tiada pernah keluar - keluar lagi, maka pada suatu hari berkatalah Dimnah kepada Kalilah, "Hai saudaraku, tahukah engkau apa sebabnya maka raja kita kelihatan berduka cita tidak keluar - keluar dari tempatnya seperti sehari-hari?"

"Apa gunanya engkau tanyakan hal itu," jawab Kalilah. "Kita hamba rakyar wajib berusaha menyenangkan hati raja, dan menjauhkan segala yang akan menyusahkan kepadanya. Bukan kita yang patut mencampuri hal raja dan memperkatakannya. Sebab itu janganlah engkau menanyakan hal itu juga. Ketahuilah orang yang suka mencampuri urusan orang yang bukan urusannya sendiri, mungkin serupa halnya dengan kera yang mencampuri pekerjaan tukang kayu."

"Bagaimana ceritanya?" tanya Dimnah.

"Ada seorang tukang bekerja membelah kayu pada suatu tempat yang banyak kera di situ. Waktu tengah hari pulanglah ia pergi makan, dan karena kayu itu baru seperduanya digergaji, pada bagian yang sudah terbelah itu dipasangnya baji. Perbuatannya itu diintai oleh seekor kera. Sepeninggal orang tadi, turunlah kera itu dari pohon kayu, pergi demi baji tadi duduk di atas kayu tadi. Dengan sekuat-kuat tulangnya dicabutnya baji tadi. Demi baji tadi terlepas, tersepitlah ekornya hingga hancur, dan matilah ia kesakitan. Setelah orang itu kembali dan dilihatnya ada kera mati tersepit, berkata ia, "Begini jadinya kalau orang suka mencampuri pekerjaan yang bukan pekerjaannya."

"Mengertilah aku maksud ceritamu itu," jawab Dimnah. "Aku pun tahu bahwa tidaklah tiap-tiap orang yang dekat kepada raja berbahagia. Sungguhpun demikian hendaklah diingat pula, tidaklah tiap-tiap orang yang mendekatkan dirinya kepada raja, hanya sekedar untuk keperluan isi perutnya belaka. 

manfaat-mengenal-quotes-hikayat-kalilah-dan-dimnah


Pengisi perut mudah dicari. Tetapi yang terutama ialah supaya kawan dapat disenangkan dan musuh dipertakuti. Ada orang yang rendah cita-citanya. Orang demikian mudah puas hatinya dengan barang yang tidak berharga. Tak ubahnya dengan anjing, kenyang dengan sepotong tulang yang kering. Adapun orang yang tinggi himmahnya, sekali-kali tiada mau puas dengan barang yang kurang. Ia tetap berjuang hingga tercapai olehnya kedudukan yang berpatutan dengan dirinya. Ibarat singa yang telah menangkap seekor kelinci itu karena melihat ada unta yang mungkin jadi mangsanya. Demikian pulalah orang yang berbudi. Kalau anjing yang sedang mengibas-ngibaskan ekornya itu diam dengan sepotong roti dilemparkan kepadanya, maka gajah yang tahu akan harga diri dan kekuatannya, belum mau makan, sekalipun makanannya telah dibawakan kepadanya, sebelum dibujuk dengan kata yang manis-manis dan mukanya diusap-usap. Maka orang yang berbudi tinggi, berharta pula, dan suka berbuat baik kepada ahli dan sanak saudara, panjang umurnya, sekalipun hidupnya di dunia tiada lama.."


Wuih, panjang ya? Ini masih bersambung, sih. Kamu bisa baca bukunya kalau penasaran hehe..


Sekilas tentang Hikayat Kalilah dan Dimnah


Cerita dimulai dengan sejarah Hikayat Kalilah dan Dimnah. Hikayat yang dibuat dua puluh abad lalu oleh seorang pemikir di zamannya. Baidaba. Kitab yang dibuat atas permintaan sang raja.

Selanjutnya ada seorang pedagang yang melakukan perjalanan bersama seorang pembantunya dan dua ekor lembu. Syatrabah dan Bandabah. Suatu ketika Syatrabah terjebak di lumpur. Sulit untuk keluar.

Karena harus segera tiba ke tujuan, sang pedagang meninggalkan lembu itu di tepi hutan. Sendirian. Tanpa teman. 

Untungnya, Syatrabah dapat keluar dari lumpur. Ternyata, ia berada di dekat padang rumput yang subur. Syatrabah bisa makan dengan puas dan menjadi gemuk.

Selanjutnya, sang raja Singa yang tak pernah mendengar suara lenguhan lembu merasa ketakutan. Sang raja singa tak berani keluar dari rumahnya. Ia juga sering merasa gelisah.

Dimnah yang mengetahui keadaan raja singa berusaha mencari tahu. Ia mempersembahkan Syatrabah pada raja. Raja merasa bahagia. Apalagi mengetahui kebijaksanaan Syatrabah, hingga menjadikan Syatrabah sebagai penasihatnya.

Perasaan dengki yang dalam melihat kedekatan raja dan Syatrabah membuat Dimnah menyusun rencana untuk memfitnah Syatrabah. Raja yang termakan hasutan Dimnah akhirnya membunuh Syatrabah. Menyisakan penyesalan yang dalam di hati raja.

Kalilah yang menyesali perbuatan Dimnah tak dapat menahan kemarahannya. Ia mengutuk perbuatan Dimnah yang tak sesuai dengan ucapannya. Mengingkari ilmu yang dimilikinya.

Nah, itu bagian cerita Kalilah dan Dimnah. Masih ada sekitar tiga belas hikayat yang tertulis di buku ini. Setiap hikayat berhikayat lagi. Jadi ya banyak banget ceritanya.

Cerita yang cukup mengesankanku adalah kisah persahabatan gagak, tikus, dan kura-kura. Gimana ketiganya bisa terus bebas dari bahaya berkat kesetiaan mereka. Ibarat bagi yang lemah itulah senjata terbaik.

Apalagi kisah tentang pertapa dengan cerpelai. Gimana pertapa menyesali perbuatannya yang tergesa-gesa. Ia membalas budi baik dengan tindakan kejam.

Eh, pengen tahu ceritanya? Kamu bisa baca buku ini di perpustakaan. Aku sih minjam buku ini gratis.


Diskusi


mengenal-tokoh-hikayat-kalilah-dan-dimnah



Seperti yang dikatakan tokoh tikus dalam kitab ini bahwa hanya orang berakal yang akan menempuh jalan yang aman, menjauhi jalan yang berbahaya. Kita pun harus melakukan hal terbaik yang kita bisa lakukan. Tidak mengerjakan keburukan dengan sengaja.

Hikayat ini juga menurutku menginformasikan pada kita bahwa ilmu yang baik itu yang kita amalkan, bukan hanya pengetahuan. Apalagi buat berbangga-bangga. Seolah ilmu itu hanya melekat di bibir saja.


Sunday, 13 September 2020

Gulliver Travel: Journeys You Never Forget



Once I believed that we always end up where we wanted. But, somehow, life is not an easy matter. We, human only do what we destine to do, or fight it and make our own journey worth while.

Wilst I read some books such as romance or historical one, I also find myself do that. Make my own journey.  Pick up what was left by the characters on the books and do my best to figure out what kind of journey I should act out to shape me.

Nope, I am not living in la la land. Definitely, my life is not like walking in the park. It's just like any other person  living life on this breathing air planet. 

Then, I remember one book written by Jonathan Swift " Gulliver Travel." An adventurous book created in 1726 . Book of all ages.


Synopsis of Gulliver Travel


It's about a man who stuck with his nagging wife. There's no day he can escape his ears from her complaints. Then, someday he goes away on a voyage and find himself stranded in a place he never knew. A strange place.

The first adventure he endures is in Liliputians land.  The island inhabitants are only about 15 cm tall. At first, they are hospitable to him. Then, he understands that his size intimidated them. Gulliver is sentenced to be blind. Luckily, his kind friend helps him.

He continues his journey. His ship is wrecked in  Brbdingnag island. Being rescued by giant farmer of 22 meters tall. They treat him with curiousity and display him for money. It makes him sick. He, then is sold to the Queen. After discussing about Europe with him, the Queen feels unhappy. The giant drops him into the sea for the sailors to rescued him and brings him back to England.

Still, he sets out his ship again. Unfortunately, his ship is attacked by pirates. He is rescued by the flying island of  Laputa. A kingdom who dedicated their sources into arts of music's, mathematics, and astronomy for knowledge only. No practical use. 

He also travels to Bainibarbi under Laputa ruler. They become Laputa victims for their desire to pursue science and neglect their responsibility to act it out. 

Then, he goes to magician's home in Glubbdubdrib. They discuss history with the ghost of historical figure. The ghosts are Julius Caesar, Brutus, Homer, Aristotle, Rene Descrates and Pierre Gassendi. 

He continues his journey and lands on the island of Luggnagg. He meet immortal people. Struldbrugs who are not given forever young gift. They, actually died at the age of eighty.  

After reaching Japan and asking for  the Emperor to excuse his performance, he returns home. He is willing himself to stay at home forever.

Though his intention to stay at home, he sails out again as a merchantman. He once again stays away from his wife and children.

In this voyage, he meets a race of deformed savage humanoid creature he dislikes. He also encounters with Houyhnhnms, a race of talking horses. They are called yahoos. Wise, generous, and kind. Unluckily, he finds out their lack of humanity traits. Greediness. It makes Gulliver feel disappointed of human kind morality. 


The Strenght of the book


I think, this exceptional satire book can enrich our perception of morality.  Besides portraying human nature in its depth, it gives us a glimpse of the perspective of life. 

This book can bring out our adventurous streak, remind us that we can't judge others simply because of their appearance, status, or thought. We only have to define others as they are. Mistakes, errors, and faults are accepted because we are only human after all.

 

Discussion


Gulliver Travel, I think is created to enhance human wisdom. Though it might reflect how pessimistic  Gulliver thought about life, he, at least tries very hard to find his way. 

One thing for sure, life is not always rose and sunny. It is challenging and full of hope. No matter how hard, we can not shut down others. 

Instead of being recluse and thinking hard about the universe problem by ourselves, it's better we find friends to talk to. So, we can share our feeling and emotion. Then, happy for being a happy breathing human who can tend to others when they need us. Hopely.

So, before we come up with some conclusion of how live is unfair, human is greedy, or no one is acceptable because of some creature lack of morality. We've got to realize that human is neither complex nor simple.  It's I think - we've got to accept our weaknesses and strenghts as a human. We need to keep moving on by forgiving ourselves and others.

Bandarlampung, 12 September 2020


Friday, 11 September 2020

Perbedaan Rumah Sakit Jiwa dan Rumah Sakit Umum



 "Dalam bayanganku,  Rumah Sakit Jiwa itu adalah tempat yang serem, gitu. Banyak orang-orang gila yang berkeliaran. Ada yang ngomong, nangis, atau tertawa sendiri. Kayak di film-film."

 Mendengar ucapan temanku, aku tersenyum. Lalu, kubilang padanya kalau Rumah Sakit Jiwa itu, ya sama aja seperti Rumah Sakit Umum. Bedanya ya kalau Rumah Sakit Jiwa  itu ada fasilitas perawatan untuk masalah kejiwaan/psikiatri

Penasaran kenapa aku tahu? Nope, aku bukan tahu dari google atau buku. Aku sering berkunjung ke RSJ Pesawaran untuk menemani adik berobat jalan. Adikku menderita F-20 9. Schizophrenia paranoid.

Nah, karena aku tinggal di Lampung, maka rujukan perawatan ada di RSJ Pesawaran.

Anyway, aku baru aja pulang dari RSJ untuk ambil obat rutin sebulan sekali. Jujur kubilang, kalau aku masih grogi. Nggak tahu kenapa. Aku selalu deg-degan saat nunggu panggilan. Padahal ini bukan kunjungan pertamaku. Dokter dan petugasnya pun ramah dan baik. 

Bulan lalu, ada pasien dari Krui ingin nebus obat. Ia harus menggunakan umum alias berbayar karena bpjs nya sudah kadaluwarsa. Ia hanya punya uang tiga ratus ribu Rupiah. Petugas hanya ambil seratus lima puluh ribu. Sisanya untuk ongkos, kata petugas itu. Padahal total obat tiga ratus ribu. Duh, aku terharu melihat kebaikannya.

Rumah Sakit Jiwa Pesawaran

Kawasan RSJ Pesawaran yang terletak sekitar 15 menit dari Bandarlampung bernuansa hijau. Karena terletak di dekat RSJ, maka daerah ini dikenal dengan sebutan Kurungan Nyawa. Bahkan TK yang terletak di seberang RS Jiwa ini disebut TK Kurungan Nyawa. 

Bangunan RSJ Pesawaran terletak di sebelah kiri jalan, jika kamu berangkat dari Bandarlampung. Nuansanya kehijauan. Menenangkan (seharusnya). Sayang, asumsi di kepalaku bikin aku tegang jika udah masuk pelataran parkirnya. Nggak bisa nikmati suasananya.

Oya, di gerbang RSJ Pesawaran sudah ada ticketing park. Beda dengan dulu. Gedung Pelayanan pasien yang biasanya di depan sedang perbaikan. So, udah beberapa bulan ini aku dan pasien lain dilayani di Gedung belakang.

Kupikir sebagian kita sudah tahu prosedur perawatan Rumah Sakit Umum yang sebenarnya sama dengan RS Jiwa. Bedanya mungkin kalau di RS Umum kita bisa daftar dan langsung menuju ke ruang pemeriksaan kita. Misalnya, waktu aku check mata di RS Advent Bandarlampung, aku daftar di loket pendaftaran. Lalu, aku langsung ke poli mata.

Sedangkan di RSJ ada urutan pelayanan. So, in case kamu ingin tahu, berikut adalah urutan mendapatkan Pelayanan konseling dan obat selama pandemi di RSJ Pesawaran:

1. Ambil nomor antri

Tadi aku datang jam 8 kurang dan dapat nomor antri C64. Pasien dan keluarga pasien duduk di kursi tunggu. Rame banget. Kayak pasar tempel. Hingga petugas RS bolak-balik ngingetin kami untuk jaga jarak dan pake masker. Tapi, ya gitu. Ada juga yang ngeyel, hingga petugas minta yang nggak pake masker untuk keluar ruangan.

2. Ambil berkas di loket 3 

Tadi itu aku heran, sih. Perasaan nomorku dilewati. Tapi petugas bilang, aku udah dipanggil. Yah, sudahlah. Aku ngalah. Aku minta maaf dan ambil berkas BPJS. Aku pun lanjut ke loket 6.

3. Serahkan berkas ke loket 6 (Loket BPJS)

Aku nyerahin berkas BPJS untuk diverifikasi petugas. Dan, ini lumayan lama, gaes. Seperti yang kubilang tadi, pasien RSJ hari ini banyak yang berobat. Untungnya, aku ini orangnya sabar banget hehe..

Sambil nungguin panggilan, aku nguping percakapan emak-emak di belakangku.

"Anakku kumat di sekolah pas Ujian Nasional. Dia ngomong-ngomong sendiri. Jadi, pas lulus nggak lanjutin kuliah. Daripada ngabisin duit karena nggak beres."

Aku ingin sekali bilang pada emak itu bahwa "Sakit" ini nggak menutup peluang kita untuk belajar. Buktinya adikku bisa selesai S-2 nya. Sayangnya, namaku dipanggil. Aku pun lanjut menuju loket 7.

4. Serahkan kartu kuning ke loket 7

Oya, kalau kamu nggak tahu kartu kuning itu apa, aku akan jelasin. Kartu kuning ini kartu pasien RSJ yang wajib dibawa saat berobat. 

Setelah kartu kuning diverifikasi, aku menyerahkan berkas ke Loket 9.

4. Serahkan berkas ke Loket 9

Gaes, FYI untuk Pelayanan konsultasi dokter Jiwa selama pandemi ini ditiadakan dulu, kecuali kamu pasien baru atau pasien yang butuh injeksi. Pasien harus diinjeksi di RSJ karena obat suntik tidak boleh keluar dari RSJ. Khawatir nanti kamu jadi ketawa sendiri katanya. Duh, aku nggak ngerti. Mau ketawa kok garing, ya?

Ruang 9 ini biasanya adalah ruang di mana pasien bisa konsultasi sama dokter ahli jiwa. Sekarang sih, karena pandemi hanya ditanya keluhannya. Lalu, pasti dijawab dengan jawaban begini oleh pasien atau keluarga yang mengantar (pasien kadang ditanya kan suka diam aja),

" Masih suka marah, bengong, susah tidur atau ngomong dan ketawa sendiri. Dok, "

Ngomong itu pun dibatasi plastik transparan. Biasanya sih bisa face to face biasa kayak ngobrol. 

Bahkan kata petugasnya, jika nggak ada masalah signifikan, pasien tidak dibawa juga nggak apa-apa. Pasien bisa diwakili keluarga, dan datang ke RS tiga bulan sekali untuk kontrol. Ya, itu jika bukan pasien baru yang wajib setor muka untuk kontrol dokter.

Setelah selesai ditanya oleh petugas, pasien keluar. Nanti pasien/ keluarga dipanggil lagi untuk ambil resep yang akan dibawa ke bpjs agar diverifikasi. 

Nah, karena kelamaan nunggu, aku sering bengong memperhatikan orang di sekelilingku. Ada ibu tua yang menuntun anaknya (pasien). Sedih melihatnya. Inget ibuku. Anak itu cantik, tapi pandangannya kosong. Tak bercahaya. Kebanyakan sih, ekspresi pasien/keluarga yang kulihat ya nggak beda dengan keadaan di RS Umum. Tegang, Bedanya ya, petugas dan dokter di RSJ terlihat lebih sabar. 

Buktinya, petugas kesehatan yang melayani nggak gampang marah dengan pasien/ keluarga pasien yang bermacam-macam. Petugas kesehatan di RS ini ngomongnya relatif santuy. Aku aja tadi karena bengong nggak denger kalau dipanggil. Tapi, mereka sabar melayani.  

5. Serahkan berkas resep untuk verifikasi di loket 6 (bpjs) 

Aku nunggu lagi di depan loket 6. Rame banget. Panas lagi. Sebenarnya aku pingin duduk, tapi kursi pasien penuh. Mana ada yang batuk-batuk. Duh, jadi paranoid. Poinnya sih, aku berdoa semoga semua sehat. Aamiin

6. Terakhir. Ambil obat ke loket obat di Gedung belakang

You know what? Petugas yang melayani ada dua orang. Bapak dan ibu. Masya Allah, keduanya ramah banget. Sekarang pun aku masih terharu dengan kebaikan mereka. 

Memang benar kata orang, "kata-kata yang baik itu seperti seteguk air bagi yang kehausan. Kata-kata baik itu bisa jadi penyelamat jiwa."

RSJ juga melayani beberapa masalah yang berhubungan dengan nafza, kecanduan obat, radiologi, perawatan gigi dan lain-lain. Termasuk masalah gigi atau sakit kepala parah yang dokter umum nggak bisa tangani. 

So gaes, nggak perlu takut dan sungkan ke RSJ. Allah itu kasih penyakit beserta obatnya. Persepsi negatif atas suatu hal itu kita sendiri yang ciptakan, dan kita juga yang bisa rubah. Be wise and stay positive thinking. Then, your health will brighten others. Semoga.

Bandarlampung, 11 September 2020

Thursday, 10 September 2020

Ali bin Abi Thalib Sosok Mulia Sepanjang Zaman

 


“… Saya tidak pernah meragukan kebenaran itu sejak (kebenaran) itu ditunjukkan kepada saya. Musa tidak merasa takut bagi dirinya sendiri, melainkan dia prihatin atas kemenangan orang bodoh dan berkuasanya kesesatan. Sekarang kita berdiri di simpang jalan kebenaran dan kebatilan. Orang yang yakin akan mendapatkan air, tidak merasakan haus.” (Puncak Kefasihan, hal: 37)

 

Siang itu aku ngobrol bareng seorang teman sambil menikmati bakso Sony yang lumayan terkenal di Bandarlampung. Sambil menyantap bakso yang panas dan lezat, aku memperhatikan sekelilingku. Kulihat sekelompok remaja sedang asyik makan bakso dan minum es cendol Sony yang dingin. Paduan yang maknyus di saat lapar dan haus di siang hari.

Sebenarnya, aku sih tertarik memperhatikan dandanan mereka. Cantik dan imut. Seneng melihatnya. Sayangnya, menurutku mereka terlihat sama dandanannya. Terutama make up  yang dikenakan. Persis seperti artis Korea.

Aku pun (dulu) seorang penggemar drakor aka drama Korea. Jadi, aku mengerti gimana rasanya mengidolai bintang K-Pop selevel Big Bang, Girl Generation, dan SNSD yang super kece itu. Flawless, jago menari dan menyanyi serta jago acting. Package idola yang mendekati sempurna. Gimana nggak kepincut ingin seperti mereka, ya kan?

Mungkin itulah yang bikin gelombang Korean wave merebak di tahun 2000an. Hingga banyak remaja yang berlomba-lomba untuk mengikuti trend yang diperkenalkan bintang idola mereka dari kosmetik, baju, sepatu, jam tangan, hingga gawai Samsung. Bahkan mereka rela menabung dan meminjam uang demi membeli produk yang digunakan idola mereka. Termasuk membeli tiket konser live jika sang idola datang ke Indonesia.

Menurut data KBS World TV yang menyediakan pelayanan streaming program Korea  di twitter saja sudah tembus di angka 100.000 followers.  Sedangkan KPop Indonesian di instagram  ada di angka 417.000 followers dengan  facebooknya yang  bisa meraup traffik pengguna di kisaran 700 ribu likes per tautan.

Dampaknya, sih mulai terasa dari makin maraknya pembelanjaan produk-produk ala Korean. Bahkan mengikuti tren drakor Korea teranyar, seperti The World of The Married, Touch, Dr. Romantic 2, Crash Landing on You dan lain-lain. Para K-Popers  rela mengorbankan banyak waktu dan uang demi bintang pujaan. Mereka ingin diakui sebagai remaja yang mengikuti tren. Tak sadar bahwa tren konsumtif ini tak membawa kebaikan, tapi kemudhorotan.

Ali bin Abi Thalib, Sosok Mulia Sepanjang Zaman


Sekarang ini, bergesernya moral generasi muda yang lebih tertarik dengan gaya hidup kekinian yang cenderung konsumtif, hedonism dianggap hal yang biasa. Padahal gaya hidup pop ini  mengakibatkan generasi muda melupakan budaya Islami yang mengutamakan kesederhanaan. Budaya yang berakar dari pemahaman tentang figur mulia Nabi dan keluarganya. Terutama figur Ali bin Abi Tholib yang dikenal sebagai pintunya ilmu. Pemisah surga dan neraka.

Dalam artikel “Dampak Modernitas K-Pop pada Gaya Hidup Siswi Berbasis Pesantren,” yang ditulis oleh Sholihah dan Sudrajat (2019) dapat diketahui mengenai budaya pop yang bertolak belakang dengan budaya Islam. Dampaknya yang bisa dilihat dari dimensi aktivitas, minat, dan opini.

Pada dimensi aktivitas dapat diketahui dari bagaimana penggemar K-Pop memberikan prioritas dari membelanjakan produk yang berkaitan dengan K-Pop. Pada dimensi minat, penggemar K-Pop akan menyukai dan hanya akan membeli produk bernuansa K-Pop. Pada opini, mereka akan menganggap bahwa K-Popers ini memberi dampak positif bagi intensitas penjualan produk K-Poper yang menguntungkan masyarakat.  Mereka berasumsi bahwa mengikuti perkembangan budaya K-Pop sudah sesuai dengan tuntutan tren modernitas.

Budaya pop yang dianggap tren ini mengakibatkan tingkat konsumerisme yang tinggi di kalangan generasi muda. Budaya konsumtif yang dianggap positif oleh sebagian orang, namun makin menjauhkan generasi muda dari perenungan dan logika. Perenungan bahwa dunia ini hanya sementara, dan logika bahwa K-Pop ini hanyalah satu dari budaya kapitalis yang bikin kita makin lupa pada Allah. Lupa bahwa budaya terbaik adalah yang dicontohkan model pemuda sepanjang zaman. Ali bin Abi Thalib.

 

Mengenal Ali Bin Abi Thalib



Pemuda Ali yang dikenal sebagai sepupu Rasulullah, suami Fatimah Azzahra binti Muhammad, dan ayah dari Hasan dan Husein yang begitu dicintai Nabi. Ali yang sejak kecil selalu berada dalam lingkungan kenabian, dan dalam bimbingan langsung pamannya. Muhammad bin Abdul Mutthalib. Nabi suluh umat. Kedekatan keduanya diibaratkan bagai Harun dan Musa. Tak terpisahkan.

Ali bin Abi Thalib terlahir dari rahim seorang ibu yang bernama Fatimah binti Assad bin Hasyim bin Abd Manaf dan ayah bernama Abu Thalib bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abd Manaf. Diceritakan bahwa sejarah mencatat Ali bin Abi Thalib sebagai pemuda pemberani yang kezuhudannya tergambar dalam perkataan dan perbuatannya.

Beliau dikenal sebagai pemuda pertama yang menerima kenabian, dan orang kedua setelah Khadijah binti Khuwailid, istri Nabi SAW. Kedekatannya dapat diketahui sejak awal kenabian Rasulullah. Ali selalu mengikuti Nabi bagai anak unta pada induknya.

Ketaatannya pun terlihat dengan kepatuhan Ali untuk tinggal di rumah Nabi dan tidur di kasur Nabi, saat Nabi bersama Abu Bakar Siddiq hijrah ke Madinah. Ali menjalankan perintah Nabi dengan keberanian dan tanpa rasa ragu. Ali tak pernah takut akan kematian.

Dalam sejarah tercatat seorang sahabat Amirul Mukminin, Hammam menanyakan tentang gambaran orang takwa. Ali menjawab dengan anjuran agar bertakwa pada Allah dan melaksanakan amal shaleh karena, “sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. 16: 126)

 

Pencapaian Ali bin Abi Thalib

Sebagaimana kita ketahui bahwa pencapaian karir politik Ali bin Abi Thalib dimulai sejak masa kanak-kanak. Di masa anak-anak ia telah menundukkan kepala lelaki Arab yang kenamaan, kepala suku Rabi’ah dan Mudhar. Ia juga mematahkan ujung tombak mereka.

Imam Syafi’i menggambarkan sifat Ali dengan sifat pemikiran yang derajatnya paling baik,

“ Apakah yang dapat kukatakan tentang orang yang dalam dirinya terdapat tiga sifat dengan tiga sifat lainnya, yang tidak pernah bersama-sama dalam diri siapa pun lainnya – kemurahan hati dengan kesusahan, keberanian dengan kebijaksanaan, dan ilmu pengetahuan dengan sifat amaliah.”

Ali mengibarkan bendera Islam di usia 16 tahun sebagai komandan pasukan termuda di zamannya. Ia juga komandan perang Khaibar yang dicatat sebagai perang yang cukup fenomenal. Bagaimana seorang Ali bin Abi Thalib yang mampu mengangkat benteng Khaibar dengan tangannya sendiri, dan memenangkan perang tanpa memakan banyak korban. Keberaniannya juga terbukti dengan ikut dalam hampir di setiap perang (kecuali perang Tabuk)  membela Nabi. Menegakkan panji kebenaran.

Beliau juga ditunjuk sebagai khilafah keempat dalam kepemimpinan umat, menggantikan Usman bin Affan. Masa kepemimpinan yang sulit dengan gejolak politik yang hebat, hingga mengakibkan terjadinya perang Shiffin. Konflik yang ditangani dengan bijak dibawah kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. Beliau mampu meredam konflik dengan mengirim pasukan wanita berpakaian pria untuk mengatasi masalah itu.

Keutamaan Utama Ali bin Abi Thalib sebagai Model Generasi Muda


Adapun keutamaan Ali bin Abi Thalib yang lain adalah kecintaannya pada orang miskin. Meski dalam kesederhanaannya, beliau tak pernah membiarkan orang mengetuk pintu rumahnya dan pergi dengan tangan kosong.

Diceritakan pernah suatu ketika saat ia dan keluarganya harus menahan lapar, dan berpuasa hingga dua hari, hingga Ali mencari rezeki dan mendapat makanan untuk berbuka mereka. Saat itu seseorang datang mengetuk rumahnya untuk meminta makanan, maka diberikanlah makanan tersebut. Keluarga itu kembali berpuasa.

Bandingkan dengan budaya K-Popers yang cenderung berfoya-foya. Menghamburkan uang pada hal yang kurang dibutuhkan, seperti: membeli tiket konser idolanya dengan menghabiskan uang gaji sebulan, atau rela meminjam uang demi membeli busana seperti idola. Mengorbankan hal yang lebih prioritas.

Bukan berarti kita harus hidup menderita dan berkesusahan tanpa hiburan, tapi sesuatu yang berlebihan itu yang tidak dianjurkan. Kecuali, dengan kecintaan kita pada K-Pop akan membawa kita jadi pribadi yang lebih cinta sesama dan sering bersedekah – maka budaya ini baik untuk ditiru.

Sebagaimana kemuliaan Ali bin Abi Thalib dan keluarganya yang bahkan di tengah kesederhanaannya, ia masih mampu bersedekah pada yang membutuhkan. Beliau pun pernah bersedekah di tengah shalatnya. Masya Allah. Ia tak pernah mengecewakan hati orang miskin yang memohon bantuannya.

Ilustrasinya sih, jika dengan mengikuti budaya K-Pop, kita menjadi pribadi baik dan agung, maka budaya ini mungkin bisa dijadikan trensetter. Begitupun sebaliknya. Budaya yang berlebihan itu tak membawa kebaikan. Mendekati jalan yang menyimpang dari kebenaran.

“ Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka akan jadi kayu api bagi neraka jahanam.” (QS, 72:15)

Mengerikan, ya? Ancaman Allah ini kiranya dapat dijadikan pertimbangan dalam mencari teladan terbaik dalam hidup kita. Kita nggak mau jadi kayu api neraka, kan? Jadi, meskipun budaya K-Pop membawa warna lain pada perekenomian Indonesia, kita sebagai generasi muda dapat berpikir dan merenung sebelum bertindak dengan meniru buta.  

Sebagaimana yang dikatakan oleh Syarif Radhi dalam pembuka buku ini bahwa, 

“ …..Mereka telah diberi waktu untuk mencari keselamatan, telah ditunjuki jalan yang benar dan telah diberi kesempatan untuk hidup dan menuntut kebajikan…”(hal: 181)

Semoga kita semua sebagai generasi muda dapat meneladani pribadi-pribadi pilihan Allah, hingga kita termasuk dalam golongan yang beruntung.

Saturday, 5 September 2020

Belajar Lewat Media Digital. Siapa Takut?



Perubahan adalah niscaya. Perubahan yang bernama lain ketidakpastian. Hal yang tak terbantahkan di dunia ini. Apalagi dengan percepatan perubahan dunia yang mengakibatkan kita untuk ikut berubah. Termasuk merubah gaya hidup kita. 

Sayangnya, banyak orang yang nyaman dengan kebiasaan lama. Belum siap menghadapi pola kehidupan new normal hingga menimbulkan krisis di hampir semua aspek kehidupan kita.  

Nah, aku akan bahas aspek yang terkait dengan media pembelajaran dalam kehidupan dengan adaptasi kebiasaan baru (New Normal) menggunakan media digital. Media yang awalnya dikolaborasikan dengan media konvensional.

Aku masih ingat di masa lalu, guruku masih menggunakan media pembelajaran konvensional papan tulis dan kapur tulis. Gimana guruku menulis dengan semangat hingga tangannya putih semua, dan kami dengan senang bergantian menghapus papan tulis. Menyisakan debu kapur yang berterbangan di ruang kelas. Apalagi bisa bercanda dengan teman-teman dengan mengusapkan debu kapur tulis ke wajah mereka. Kami bisa tertawa seharian. 

Setelah kapur tulis dan papan tulis, media pembelajaran berubah. Guru mulai menggunakan spidol yang lebih ramah debu. Terlihat lebih bersih dan efisien, meski menurutku berfungsi sama. Media pembelajaran. Sebagaimana media digital yang kini mulai marak digunakan sebagai jawaban atas masalah krisis pandemi Covid. Media yang perannya dianggap cukup vital dalam proses pembelajaran.

Sebagai guru, media digital sangat membantu dalam proses pembelajaran sehari-hari di masa New Normal ini. Meski kami belum begitu terbiasa. Selayaknya orang yang terkena bencana kemarau setelah lama menjalani kenyamanan dalam limpahan air hujan. Begitu pun keadaan guru-guru yang terbiasa ada di zona aman. Panik dan bingung untuk belajar mengenai media digital yang dapat membantu proses pembelajaran.

Rasa bingung yang membangkitkan kesadaran kami tentang pentingnya belajar tentang media digital. Kami pun jadi berlomba belajar applikasi media digital yang akan digunakan dalam proses belajar via daring.

sumber gambar fixabay


Kesadaran Akan Pentingnya Media Digital Dalam Pembelajaran

Sebenarnya sih, peran penting media digital tak hanya menyentuh satu sisi dari proses pembelajaran saja. Melainkan, sudah sampai ke ranah yang lebih sensitif, yaitu: proses kreatif guru dan siswa dalam prosesnya. Misalnya, seorang guru dapat dengan fleksibel menggunakan media digital tak hanya dalam proses pembelajaran, tapi sebagai media konseling dan pengembangan bakat. Aspek yang output nya dapat mendorong siswa agar dapat menghasilkan produk yang punya nilai jual. 

Output siswa yang diharapkan bisa jadi motivasi untuk terus belajar dan berkarya. Belajar untuk terus mengembangkan potensi terbaiknya lewat media digital. Terutama di masa kehidupan new normal yang memaksa kita lebih sering berada di rumah demi menghindari kerumunan. 

Ruang bengkel yang kosong


Memang sih, nggak mudah beradaptasi dengan gaya hidup baru di masa new normal ini. Perlu penyesuaian dalam beraktivitas.  Kita jadi menyadari bahwa media digital adalah media yang dapat membantu kita survive dalam menghadapi kehidupan adaptasi new normal ini. 

So, dalam proses menghadapi kehidupan new normal ini, kita perlu trik jitu agar bisa menjalani kehidupan ini dengan baik. Trik yang dapat membantu kita mengatasi kesulitas dalam proses pembelajaran.

  1. Santai dan tenang
Proses pembelajaran bersama siswa/anak akan berjalan baik, jika kita sebagai guru dan orang tua dapat membimbing anak dengan santai dan tenang. Tidak buru-buru. Apalagi tegang dan sambil marah-marah.  Kebayang kan, kalau kita jadi murid yang gurunya tegang dan marah-marah? Pasti yang kita  pelajari susah nempelnya. Susah nyambung.
       

Sebaliknya, kita pasti mudah paham jika kita dibimbing guru yang santai dan tenang. Hati jadi adem. Pelajaran jadi terasa lebih mudah. 

     2 Sabar dan Percaya diri 

Tips lain adalah sabar dan percaya diri dalam membimbing anak - anak kita. Meski tidak mudah.  Apalagi menghadapi gejolak emosi day to day anak yang bosan dan kesal dengan keadaan ini. Merasa terkungkung oleh beban belajar via daring yang menumpuk.

Hasilnya, orang tua merasa kehilangan rasa sabar dan percaya dirinya menghadapi anak yang enggan belajar. Orang tua jadi mudah marah. Bahkan main tangan. So, tidak ada jalan lain selain sabar dan percaya diri bahwa kita bisa. Bisa melalui krisis ini. Lalu menjelaskan pada anak bahwa di masa pandemi ini, kita harus bersabar dan berdoa. Berharap pada Tuhan, semua lekas berlalu.

Selanjutnya, tips santai dan sabar ini kupikir dapat mengoptimalkan proses belajar via daring yang dilakukan anak. Proses belajar daring bahkan bisa memacu anak mengembangkan bakatnya lewat media sosial yang ada. Berbagai leaflet lomba online bertebaran di media sosial yang dapat diikuti anak untuk menguji mental atau mengejar hadiah.

Sebut saja lomba yang diadakan oleh Pocari sweat yang diperuntukkan bagi siswa SMA sederajat. Ajang pencarian bakat lewat media digital yang banyak peminatnya. Belum lagi ajang lain seperti: Biocalci Video Competition, Lomba design Logo, Lomba menulis dan lain-lain. Ajang yang dapat menempa kemahiran siswa dalam bermedia sosial secara bijak.


So, Belajar Lewat Media Digital. Siapa Takut?

Proses belajar via daring yang bisa dilakukan di mana saja ini dapat menggunakan berbagai applikasi digital sesuai kebutuhan. Dari whatsapp, instagram. google meet, google classroom, zoom, facebook dan lain-lain. Aplikasi digital tersebut dapat dengan mudah diperoleh gratis di playstore. 

Nah, dengan berbagai kemudahan tersebut, kupikir jadi tak ada alasan buat takut untuk belajar lewat media digital, kan? Selain dapat memperoleh berbagai keuntungan dari segi waktu, dan uang, siswa juga dapat menjembatani keterbatasan lain lewat media digital. Siswa dapat berekspresi bebas lewat media yang ia minati. Berkarya dengan bakat terbaiknya.

Sebagai guru, kami pun berusaha memberi contoh pada siswa didik agar terus semangat belajar lewat media digital. Kami juga mengikuti lomba yang diadakan media online. Termasuk aku. Masalah menang atau kalah, itu adalah bonus.

Sebagaimana ucapan Ali bin Abi Thalib yang sangat meresap dihatiku,

"Wahai manusia, saya tidak menyuruh anda melakukan suatu tindakan, melainkan mula-mula saya sendiri melakukanya mendahului Anda; saya tidak akan mencegah Anda dari sesuatu melainkan saya mencegahnya dahulu dari diri saya." (imam Ali bin Abi Thalib, Puncak Kefasihan: 1997)

So, gimana dengan kamu? Tulis pendapatmu, ya? Terima kasih.

Friday, 28 August 2020

Review All the wrong substraction karya Khawaja Ali Zubair

Berlatar di negara Muslim bekas jajahan Inggris, Pakistan menjadikan cerita ini unik. Apalagi dengan tema cinta yang menyelimuti seluruh kisah yang ditulis dari sudut pandang orang pertama ini. Nadir Husesni. Kisah yang terkesan sedikit gloomy namun memberi gambaran bahwa hidup itu begitulah adanya


Stories end where love begins. This story starts right where love ends.


Itu kata-kata awal yang menurutku cukup dalam maknanya. Kata-kata yang bikin aku sedikit kecele. Kupikir kisah ini akan berputar di kisah cinta semata. Ternyata, aku nggak salah. Hanya saja, versi cinta yang hadir di sini, mungkin berbeda dengan yang kita bayangkan. 

Sinopsis

Kisah yang diawali dari berakhirnya cinta seorang Nadir Husseni pada gadis pujaannya. Linah Rafiki. Gadis yang justru memilih pria lain. Minavan Malik. Padahal Nadir begitu mencintainya. Bahkan menjadikannya sebagai tujuan dari karir sprinternya. Begitu ia pikir.

Perasaan Nadir yang void dengan emosi akibat patah hati tak berubah. Ia merasa hambar. Tak menikmati sambutan meriah Mr. Husseni akan kemenangannya sebagai seorang sprinter. Nadir merasa sebagai seorang pecundang karena hanya memperoleh perunggu. Apalagi penyemangatnya untuk mencapai garis finish tak lagi jadi miliknya. Ia kehilangan tujuan dan semangat hidup. Nadir merasa hidupnya sia-sia. Ia merasa kalah dan memutuskan untuk keluar dari Tirah University. Ia lari. Meninggalkan cinta dan segala kenangan pahit. Termasuk sahabatnya. Lounger.

Lalu, berkat koneksi ayahnya, Nadir bisa pindah di universitas lain dengan mudah. Ia menemukan banyak hal baru. Termasuk teman. Farah Malik. Gadis yang ternyata adalah sepupu Minavan Malik. Orang yang ia benci.

Namun, rasa benci memang tak bisa menghilangkan simpati dan kebaikan seseorang. Nadir pun bersahabat dengan Farah. Persahabatan yang menjadikan Nadir sebagai seorang yang berbeda. 

Nasib memang mengombang ambingkan perasaan dan diri manusia. Termasuk Nadir. Ia harus menelan pil pahit yang ia tahan dan telan dengan terpaksa. Ini terjadi karena anak tertua keluarga Husseni, Marium Husseni ternyata akan menikah dengan Yasir Malik. Kakak dari Minavan Malik. Musuh besar Nadir Husseni. Orang terakhir ingin Nadir lihat. Apalagi dijadikan keluarga. Tapi, nasib memang selalu berkata lain. Begitu pun nasib juga yang membawanya untuk bertemu dengan Dadhey Siddique. Pemuda kharismatik yang menarik hati Nadir. Ia tak menyangka bahwa Dadhey adalah saudara tiri dari Minavan.

Nah, pertemuan Nadir dan Dadhey inilah yang mengawali ikatan erat bermakna keduanya. Mereka berdua berkonspirasi membalas perbuatan Minavan yang telah merebut cinta Nadir. Konspirasi yang justru berakhir dengan kematian Dadhey Siddiqui dalam sebuah kecelakaan pesawat. Menyusul ayah dan ibunya.

Nadir yang hancur. Terpuruk. Ia makin membenci Minavan. Membenci dirinya karena tak bisa mengungkapkan perasaannya pada Dadhey. Membuka hati dan meminta maaf atas kekerasan hatinya. Menyesali rasa harga diri yang menahan dirinya untuk mencintai sahabat yang sangat ia hargai. Ia berpikir, kalau saja ia melakukan apa yang seharusnya, Dadhey pasti masih ada di dunia ini. Bersamanya. 

Tapi, suratan nasib memang tak bisa ditolak. Kematian Dadhey menyadarkannya akan hidup, dan menghargai kehidupan. Mencintai orang-orang yang ada di sekitar kita dengan tulus.


Diskusi

Buku yang berlatar tanah Pakistan ini memang agak terkesan gloomy, dan sarat dengan pesan moral. Menggambarkan tentang kisah kehidupan keluarga konglomerat Husseni dan Malik dengan tokoh sentral Nadir Husseni. Tokoh yang terkesan labil dan mudah  terbawa perasaan. Skeptis. Ia juga kurang percaya diri. Mungkin ini terjadi karena ia selalu dengan mudah mendapat apa yang ia mau. Ia juga mendapat pengakuan dari keluarga yang menyayanginya.

Berbeda dengan Dadhey yang selalu duduk di pojok ruangan. Selalu jadi orang luar. Bahkan di keluarga Malik. Meski ibunya menikah dengan Rahat Malik (ayah Minavan dan Yasir). Ia tak benar-benar dianggap keluarga. Ia bahkan memakai seutas kain putih di tangannya sebagai momentum pengingat baginya. Pengingat atas kehilangan besar yang ada hubungannya dengan Minavan. 

Menurutku, tokoh Dadhey yang tak peduli akan harta dan kedudukan ini lebih kuat dibanding tokoh utama. Menggambarkan paradoks manusia cerdas yang tak diterima sekitarnya karena ia istimewa. Meski ia hanya ingin diakui dan dicintai. Sayang, di detik akhir hidupnya pun. Semua orang yang berarti baginya - melepaskan tangan atas dirinya. Hal yang jadi penyesalan bagi Nadir, Rahat, dan Minavan. Hingga saat bayi Marium lahir, mereka menamainya Dadhey Malik. Sebagai pengingat.

Pengingat bahwa seorang yang berarti dalam keluarga ini akan selalu ada dan disayang. Meski tak ada yang bisa menggantikan Dadhey Siddiqui. Paling tidak bagi Nadir Husseni.

Mungkin, seperti penyesalan yang pahit di ujung lidah. Tak ada yang bisa dilakukan selain menelannya. Sebagai manusia, bagaimana pun kita harus terus move on. Penyesalan akan masa lalu tak bisa kita ubah. Kita hanya bisa memperbaiki apa yang akan kita lakukan hari ini. Harapannya, hari ini tidak jadi penyesalan di hari esok.

Nah, sebagai pengingat, aku akan kutip surat terakhir Dadhey yang ia berikan sebelum pesawatnya meledak di angkasa.

Grand words Nadir, good indeed these are. If only you knew me better. If only I had the strenght to go through it all over again. I might have had fewer sentiments to add, less forgiveness to ask for, less meaning to get across and less doubts about whether I have said all I wanted to say. (Dadheys letter to Nadir, right before his plane crashed) page 129 


Bandarlampung, 28 August 2020


Judul buku     : All the wrong substraction

Penulis            : Khawaja Ali Zubair

Tebal buku      : 177

Bentuk buku    : pdf

Review Buku Rambut Sang Nabi Karya Salman Rusdhie

  Pernah dengar tentang Salman Rusdhie yang pernah diancam dengan hukuman mati oleh mendiang pemimpin Revolusi Islam Iran di tahun 1990an? T...