Thursday, March 12, 2020

Karakter Hester Prynne dan Arthur Dimmesdale dalam The Scarlet Letter


A good man's prayers are golden recompensate (hal. 336)

Membaca buku yang sudah lama kudownload ini membuatku berpikir ulang tentang arti cinta, kejujuran, dan keberanian. Arti tentang hidup.

Buku yang kubaca untuk memenuhi tantangan Reading Challenge Odop yang temanya genre romance. Genre yang lebih sering kubaca dibanding genre lain.

The Scarlet Letter karya Nathaniel Hawthorne merupakan karya klasik yang asyik dibaca. Apalagi kalau kita tertarik membahas tentang cinta dari sudut yang berbeda. Cinta yang penuh keberanian dan pengorbanan.

Kisah The Scarlet Letter yang diperankan oleh dua tokoh sentral, Hester Prynne, seorang wanita muda cantik yang dihukum dengan mengenakan tanda 'A' di dadanya karena dosa perzinahan yang ia lakukan  dan Arthur Dimmesdale, seorang reverant muda yang tampan dan pintar. Ada juga Pearl, putri kesayangan Hester, yang cerdas dan ceria.

Kisah dimulai dengan persidangan atas Hester Prynne yang dilakukan di depan banyak orang. Hester yang menggendong Pearl yang masih bayi, mengenakan baju merah dengan simbol 'A' (Adultery yang artinya perzinahan) dengan tabah menghadapi kemarahan dewan gereja dan masyarakat. Hester juga menolak memberitahu nama 'ayah' Pearl. Hal yang membuat gereja marah dan menjebloskan Hester ke penjara.

Keteguhan dan ketabahan Hester menghadapi guncingan dan hinaan warga tak menyurutkan perundungan terhadap putrinya. Tapi, Hester tetap bertahan dan sabar mengakui kesalahannya. Ia juga berusaha menghidupi dirinya dan Pearl dengan kerja keras sebagai penjahit. Keahliannya diakui oleh banyak orang. Termasuk gereja. 

Hester pun tidak membenci ayah Pearl, meski ia tak berani mengakui dosa bersama dirinya. Hester juga tidak mengajarkan Pearl untuk membenci siapapun.

Hester dengan bahagia merawat Pearl, dan menyayanginya. Ia tidak malu dengan keberadaan Pearl. Meski ia menyadari bahwa dirinya tak pantas memiliki berkah seperti Pearl karena dosa-dosanya.

Kesadaran yang membuatnya makin menghargai pemberian Tuhan, lebih mencintai hidup.

Sedang tokoh lain yang membuatku geregetan adalah Arthur Dimmesdale. Seorang pendeta muda yang tampan dan baik. Sayang, ia begitu takut menodai jubah suci gereja yang ia kenakan. Padahal, ia menyadari bahwa ia tak pantas lagi mengenakan jubah simbol kebesaran gereja itu.

Memahami tokoh Dimmesdale ini seperti berusaha mengenal diri sendiri. Sosok yang berjuang meraih derajat mulia di mata masyarakat. Meski harus mengorbankan hati nurani. 

Sosok Dimmesdale yang hidup dalam ketakutan, kekhawatiran dan penyesalan ini mewakili sosok manusia yang tak ingin melepaskan derajat mulia di mata masyarakat. Padahal hatinya berkubang dalam kesedihan dan penderitaan karena dosa yang ia lakukan.

Selanjutnya, ada tokoh Pearl, buah cinta Hester. Tokoh tanpa dosa yang mencari kasih sayang ayah yang tak ia dapatkan. Pearl yang penuh rasa ingin tahu atas segalanya, termasuk perundungan yang sering ia dan ibunya dapatkan. Tokoh yang menggambarkan ketulusan, dan keberanian hingga melunturkan stigma bahwa buah dosa itu tak suci atau bernoda. Tokoh ini seolah menjelaskan bahwa ia tak bersalah. Ia hanya terlahir dari perbuatan dosa.

Akhirnya, aku pun berpikir bahwa cinta itu dapat memaafkan. Seberat apapun dosa kita. Sebagai manusia, kita tak berhak menilai orang lain kecuali apa yang kita ketahui karena belum tentu kita lebih baik. 

Judul buku   : The Scarlet Letter
Penulis          : Nathaniel Hawthorne
Penerbit       : Planet PDF
Tebal             : 394 halaman

For more free eBook visit our Web site at http://www.planetpdf.com/

1 comment:

Mengenal Sejarah Sebagai Bukti Cinta Tanah Air

Bangsa besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. Begitulah slogan yang kuingat dari pemimpin besar Indonesia, Soekarno. Seorang...