Wednesday, June 24, 2020

Review Buku Akhirnya Kutemukan Kebenaran



Pernah mendengar tentang kisah perjalanan mencari kitab suci seorang pendeta Budha bersama pengikutnya dalam mencari kebenaran? Kisah perjalanan ke Barat yang penuh liku dan penderitaan. Kisah yang mempresentasikan akan sulitnya seorang manusia yang tulus dan jujur dalam mencari kebenaran.

 

Pertanyaannya sekarang, apakah semua orang beruntung bertemu dan berhasil dalam menemukan apa yang dicari? Apakah kebenaran itu sendiri merupakan jawaban akan semua masalah yang ada dalam kehidupan kita? Lalu, setelah menemukannya, apakah manusia beruntung tersebut dapat melepaskan pemahaman yang ia miliki sebelumnya jika itu tak sesuai dengan kebenaran yang ia temui setelahnya ? Atau mengambil sebagian dan melepaskan sebagian demi keselamatan diri?

 

Nah, pertanyaan dan jawaban dari apa yang menderu di dada manusia yang terus mencari ini terlukis dalam kisah nyata sederhana di buku bersampul biru ini. Buku yang berjudul “Akhirnya Kutemukan Kebenaran” yang berjudul asli Tsuma tadaitu karya Dr. Muhammad Al-Tijani Al-Samawi ini mengisahkan perjalanan spiritual sang penulis dalam pencariannya menemukan kebenaran. Sebuah kisah yang sangat mengena di hatiku karena kejujuran penulis yang pasti bisa diambil hikmahnya.

 

Penulis yang namanya diambil karena kecintaan pada aliran tarekat Tijaniah yang beraliran Maliki yang banyak dianut di Tunisia. Sebuah nama istimewa mengingat keluarga Tijani merupakan pengikut tarekat yang pertama kali sejak kedatangan salah satu anak Syaikh Sayyidi Ahmad Tijani yang datang dari Jazair mengunjungi kota Qafsyah dan tinggal di rumah keluarga as Samawi.

 

FYI  bahwa tarekat Tijaniyah ini tersebar luas di Maghribi, Jazair, Tunisia, Libya, Sudan, dan Mesir. Para pengikutnya dikenal cukup taasub atau fanatik hingga tak datang menziarahi kuburan wali lain. Mereka percaya semua wali belajar secara silsilah, kecuali Syaikh Ahmad Tijani. Beliau dipercaya  belajar langsung pada Nabi Muhammad saw secara yaqazatan, yakni  secara nyata. Bukan mimpi. Meski jarak zaman terpisah selama 15 abad. Bahkan tarekat ini percaya bahwa sembayang sempurna yang dilakukan Syaikh lebih baik 40 kali dari mengjhatamkan Al quran.

 

Buku yang diawali dengan perjalanan awalnya mengenal dunia spiritualisme melalui sang ibu. Bagaimana kehidupan keluarga yang begitu kental dengan sentuhan keagamaan dan semangat sang ibu untuk membesarkan Tijani kecil dengan cinta yang begitu dalam- terpisah dengan tarekat sufi yang begitu menjamur di utara Afrika.

 

Dikisahkan bahwa Tijani merupakan orang pertama seusianya yang menginjakkan kaki di tanah suci,   terutama di kota Qafsah.

Usiaku delapan belas tahun tahun ketika Gerakan Pramuka Tunisia menunjukku untuk mewakili negara dalam Seminar Pertama Penelitian Arab dan Islam di Mekkah. …(hal. 13)

 

Perjalanan Tijani ke beberapa kota lain seperti Athena, Amman, sebelum akhirnya tiba di Mekkah untuk mengikuti seminar dan melaksanakan ibadah haji dan umroh ini membuatnya terkenal dan dikagumi. Ia pun mengenal beberapa ulama besar yang membuatnya mempertanyakan tentang dirinya. Kesadaran yang membuatnya mengkritisi keyakinannya selama ini.

 

Dialog-dialog bernas yang ditulisnya dibuku ini pun membawa kita lebih jauh tentang beberapa kekeliruan pemahaman karena sumber data yang tidak valid. Bahwa kita tak bisa menilai sesuatu atau seseorang berdasar dari orang-orang yang tak berilmu atau dugaan saja. Sebagaimana kita tak bisa menuduh seseorang berbohong, atau mencuri kecuali orang itu mengakui kejahatannya atau kita memiliki bukti yang valid atas tuduhan tersebut.

 

So, membaca buku ini Insya Allah bisa membuka ruang pemikiran baru tentang khazanah perbedaan. Kita jadi lebih mengetahui bahwa perbedaan itu kiranya tidak menjadikan manusia itu tak layak untuk dikasihi dan dicintai. Paling tidak, kita harus mengetahui dengan jelas tentangnya. Tentu saja hal itu dapat dilakukan dengan banyak mendengar, membaca dan belajar. Berusaha untuk open minded atas segala perbedaan dan merenungkannya. Bukankah manusia itu tercipta berbeda-beda dalam bentuk tubuh, warna kulit, cara hidup, dan cara ibadah? Tapi, yakinlah bahwa semua mahluk itu beribadah dengan caranya dan pengetahuannya masing-masing. Tiap diri nanti akan dimintai pertanggungan-jawabnya di hadapan Allah tanpa kecuali. So, tak ada yang berhak menilai sesuatu atau menghakimi kecuali Allah.


Salam literasi^^


Judul buku               : Akhirnya Kutemukan Kebenaran Kisah Pengembaraan Intelektul dan Spiritual

Judul asli                 : Thumma Ihtadaitu

Penulis                     : Dr. Muhammad al-Tijani al-Samawi

Edisi Bahasa Arab : Cetakan Beirut, Lebanon 1411 H

Penerjemah            : Hesein Shahab

Penerbit                  : Pustaka Pelita

Tebal buku             : 264 halaman

 

Bandarlampung, 24 Juni 2020


No comments:

Post a Comment

Mengenal Sejarah Sebagai Bukti Cinta Tanah Air

Bangsa besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. Begitulah slogan yang kuingat dari pemimpin besar Indonesia, Soekarno. Seorang...