Thursday, May 14, 2020

Review Kumpulan Cerita Abu Nawas: Kisah Penuh Hikmah


Abu Nawas, pujangga berdarah Arab dan Persia yang dikenal dengan karya  bertemakan anggur, nafsu, dan kecabulan. Dia yang bernama Abu Ali Al-Hasan bin Hani  Al-Hakami (756-814 M) juga dikenal dengan syair khamar hingga sempat dijuluki Zhindiq, perusak agama. Meski begitu, karya besarnya melewati zaman, menembus alam pikir hingga hari ini.


Abu Nawas lahir di Ahvaz, Persia (Iran). Tanah kelahiran banyak pujangga seperti Ferdowsi, Nezami Ganzavi, Parvin E'tesami, Forough Farrokzad, dan masih banyak lagi. Bisa dibilang, Abu Nawas adalah salah satu pujangga besar kelahiran Persia yang cukup dikenal dengan karya-karyanya. Terlebih dengan ambivalensinya sebagai seorang penyair yang dengan berani mencemooh agama dan Tuhan lewat karyanya hingga pertobatannya dan rasa takutnya pada pedihnya siksa neraka. 


Bicara tentang Abu Nawas, mengingatkanku tentang kajian Fahruddin Faiz dalam Ngaji Filsafat yang membawas lima fase seluruh kehidupan Abu Nawas. Lima fase yang ditandai oleh ciri-ciri syair khas miliknya. Dari seorang pemabuk hingga menjalani pertobatan di akhir kehidupannya. Bisa dibilang kehidupan Abu Nawas penuh pergolakan dan ketidakpuasan. Mungkin kegelisahan itu yang menjadikan karya Abu Nawas begiitu menyentuh, manusiawi.


Pernah aku membaca bahwa seseorang yang jiwanya gelisah, dan selalu mencari akan selalu bergerak dan kreatif. Menciptakan karya yang tak lekang zaman karena mencerminkan dinamika seorang anak manusia yang terus berjuang hingga menemukan jalan kebenaran. Jalan pertobatan. Syair pertobatannya yang terkenal adalah "...ilahi lastu..." berjudul Al I'tiraf. Syair yang sempat dibawakan oleh Hadad Alwi dalam album 'Cinta Rasul' di tahun 1999. Syair indah yang hingga hari ini pun masih dikumandangkan.


Beberapa fase yang mempengaruhi syair Abu Nawas dirangkum oleh Fahrudin Faiz. Lima fase kehidupan yang mungkin saja dialami sebagian dari kita tanpa disadari. Sedang Abu Nawas yang sempat menjalani fase yang paling rendah (penuh kemaksiatan) dalam hidupnya hingga kehidupan esoteric/pertapa ala sufi, beberapa dari kita masih terus tenggelam (terbiasa) dalam kenyamanan dosa. Abu Nawas mengakhiri kehidupannya dalam pertobatan pada Tuhan sebagai hamba-Nya yang hina dan penuh dosa.

 

Lima fase yang Fahruddin rangkum adalah 

 

Pertama, syair yang berbau khamar, suka ria, mabuk, dan erotis. Kedua, syair-syair yang berisi retorika satire (sindiran) yang mendorong orang untuk mabuk. Ketiga, sindiran pada kesalehan formal, yakni mereka yang menjalankan agama sebagai bungkus. Keempat, syair seputar pentingnya menikmati hidup. Kelima, fase kesadaran akan pentingnya pertobatan.

 

Kecerdasan Abu Nawas tak disertai dengan kepuasan, hingga hidupnya  berantakan. Meski di akhir kehidupannya ia menjalankan pertobatan. Ia juga memberikan kontribusi besar dalam tradisi pertapa, pujian, elegi, censur, dan puisi kritis/hinaan. Seorang pujangga yang berani dan kreatif di zamannya.

 

Nah, aku akan kutip salah satu cerita Abu Nawas yang kusuka. Cerita yang merefleksikan kecerdikan Abu Nawas.

 

Raja ingin menguji kecerdasan Abu Nawas. Jadi, ia mengundang Abunawas ke istananya.

"Anda menginginkan saya, Yang Mulia?"

"Ya, kamu telah membodohi saya berulang kali. Dan itu berlebihan. Saya ingin kamu meninggalkan negri ini. Kalau tidak, kamu harus masuk penjara."

 Jika itu yang Tuanku inginkan," kata Abunawas dengan sedih, "Aku akan lakukan perintah Tuan."

"Ingat, mulai besok kamu tidak boleh menginjakkan kaki di atas tanah negri ini lagi," kata Raja dengan serius.

"Baik, Yang Mulia."

Abu Nawas meninggalkan istana dengan  sedih. Keesokan paginya Raja memerintahkan dua pengawalnya untuk mendatangi rumah Abu Nawas. Mereka terkejut. Abu Nawas masih ada di sana. Ia sedang berenang di kolam kecil di halaman depan.

"Hey, Abu Nawas, kenapa kamu belum meninggalkan negri ini? Raja telah memerintahkanmu untuk tidak menampakkan kakimu di tanah negeri ini. Bukankah begitu?"

"Benar. Raja telah mengatakan hal itu," jawab Abu Nawas dengan santai. "Tapi lihatlah diriku. Apakah aku menginjak tanah? Tidak. Aku berenang. Aku ada di dalam air."

Para pengawal tidak bisa membantah Abu Nawas. Jadi mereka pergi dan kembali ke istana untuk melaporkan apa yang mereka lihat. Raja penasaran dengan alasan Abu Nawas tidak meninggalkan negri. Jadi ia memanggil Abu Nawas untuk menghadapnya. Abu Nawas datang dengan menggunakan enggrang.

"Abu Nawas, aku pasti akan menghukummu karena kamu tak melaksanakan perintahku. Dan sekarang, lihatlah dirimu! Kamu berjalan menggunakan enggrang seperti anak kecil. Apakah kamu gila?" kata Raja dengan marah. 

"Aku ingat dengan jelas apa yang anda katakan, Yang Mulia," jawab Abu Nawas dengan  tenang. "Pagi ini aku mandi di kolam hingga aku tak harus berdiri di atas tanah. Dan sejak kemarin aku berjalan menggunakan enggrang. Jadi seperti yang anda lihat. Aku tidak menapakkan kaki di atas tanah."

 Raja tak bisa mengatakan apa-apa. Ia pikir Abu Nawas adalah orang yang sangat cerdik. Ia menawarkan Abu Nawas minum. Abu Nawas merasa senang dan tersenyum.

 

Terlihat jelas di cerita ini bagaimana Abu Nawas mencemooh kekuasaan Raja. Dia dengan berani mengkritik kekuasaan yang tak berpihak pada rakyat. Abu Nawas menampar keras kekuasaan Raja dengan caranya. Ia melakukan politik praktis demi menyelamatkan kepentingannya (nyawanya). Sebagaimana seorang miskin yang harus pintar-pintar berniaga agar bisa bertahan hidup.


Membaca kisah Abu Nawas yang selalu lolos dari sikap semena-mena Raja dengan rasa humor dan kecerdikan ini menurutku merupakan kritik pedas betapa orang biasa itu tak punya kekuasaan di depan penguasa tanpa pengetahuan. Cerita yang sesuai dengan fase kedua hidup Abu Nawas.


Adapun syair-syair Abu Nawas yang menggelitik dan sedikit berbau kritik karena kedekatannya dengan khamar yang jelas dilarang dalam agama (mungkin) tercermin di syair ini:

 

Jauhkan masjid untuk hamba-hamba, yang engkau diami

Menari dengan kami mengelilingi para peminum khamer, untuk minum bersama-sama

Tuhanmu tidak mengatakan 'celakalah bagi orang-orang yang mabuk'

Tetapi, Tuhan berfirman, "celakalah orang-orang yang shalat diantara kita"


Dengan syair ini Abu Nawas menyindir abid (ahli ibadah) yang menjual agamanya demi tahta atau uang. Mungkin pada saat itu pun Abu Nawas merasakan bahwa para abid  pun ada yang cenderung membela kepentingan penguasa dibalik jubah keagamaannya.


Sungguh ini pun mengingatkanku dengan cerita pendeta jahat dalam Si Cantik dari Notredame. Pendeta yang menganggap ibadahnya dapat membeli kejahatannya. 


Dengan kata lain, syair ini pun mencerminkan keadaan sosial politik pada zamannya.


Ada lagi syair yang Abu Nawas buat untuk Khalifah Harun Al Rasyid. Syair yang begitu disukai khalifah, hingga Abu Nawas dihadiahkan 4000 dirham. 

 

Kemejanya basah tertuang air

Pipinya mengembang menyimpan malu

Udara membalutnya dalam telanjang

Lebih tipis dari udara

Bau wangi mengalir seperti air

Ke dalam air yang menular dalam wadah

Setelah selesai, dia terbang penuh riang

Segera mengambil jubahnya

Dia melihat seseorang sedang mengamati dan mendekat

Bayangan itu telah menggelapkan cahaya

Fajar subuh menghilang, bersembunyi di bawah malam

Air mengalir di atas air

Maha suci bagi Tuhan, dan Dia telah membebaskannya

Sebagai yang terbaik pada wanita


Well, membaca syair ini, terasa fase yang pertama ya? Menurutku ini fase penyair Persia muda berbakat ini tenggelam dalam harta dan dunia khamer. Kata orang sih, jadi mengingatkan kita pada Ariel 'Noah'. Seniman muda bertalenta yang kaya dan dicintai. Tak heran Abu Nawas dikenal juga sebagai penyair khamer (syu'ara'al khamriyat). 

 

Kemudian fase kehidupan Abu Nawas berubah, hingga pada titik kegelisahan yang tak tertahankan. Mungkin rasa bosan akan gelimang maksiat, perempuan dan hura-hura membuatnya lebih berani dan terbuka pada ketidakbenaran di sekitarnya. Dia tak takut mengguncang tatanan yang ada, karena sudah berada di titik terbawah. Lalu, berusaha untuk bangkit. Kembali dan berserah diri pada Tuhan.


Kita sih bisa membandingkan syair khaamarnya yang berbau erotis dengan syair Al I'tiraf (Pengakuan) ini, lalu merenungkannya.

 

Ilaahi lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa naaril jahiimi

(Wahai Tuhanku! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka Jahim

Fa hablii taubatan waghfir zunuubii fa innaka ghaafiruddzambiil azhiimi

(Maka berilah aku taubat/ampunan dan ampunilah dosaku, sesunggunya engkau Maha Pengampun dosa yang besar)

Dzunuubii mitslu a'daadir rimaali fa hablii taubatan yaa dzaaljalaali

(Dosaku bagai bilangan pasir, maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan

 

Wa umrii naaqushun fii kulii yaumi wa dzambii za-idun kaifah timaali

(Umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya

 

Ilaahii 'bdukal 'aashii ataaka muqirran bidzdzunuubi wa qad da'aaka

(Wahai, Tuhanku! Hamba-Mu yang berbuat dosa telah datang kepada-Mu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepada-Mu)

Fa in taghfir fa anta lidzaaka ahlun wa in tathrud faman narjun siwaaka

(Maka jika engkau mengampuni, maka Engkaulah yang berhak mengampuni. Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?)

 

Syair yang penuh dengan pengharapan pada pengampunan Tuhan semata. Total berserah diri pada Tuhan. Kupikir inilah fase terakhir dalam hidup Abu Nawas. Pertobatan.


Kupikir, tak ada seorang pun yang berhak menilai orang lain. Sebagaimana kita pun belum tentu lebih baik dari orang itu. Mengingatkanku akan kisah Si Separoh Mencari Tuhan dalam buku Si Kabayan bahwa ibadah yang semata-mata karena mengharapkan imbalan adalah kulit. Sedang sebaik-baik ibadah hanyalah karena mengharap ridho Allah semata. Wallahu a'lam bis-shawab. 


Bandarlampung, 14 Mei 2020

No comments:

Post a Comment

Mengenal Sejarah Sebagai Bukti Cinta Tanah Air

Bangsa besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. Begitulah slogan yang kuingat dari pemimpin besar Indonesia, Soekarno. Seorang...