Thursday, July 2, 2020

Review Buku Blind Willow Sleeping Woman

Bismillah


Okeh gaes.. aku sekarang mau ngomongin tentang buku online yang kubaca lewat archive.org. Book reader. Gratis. Aku minjem selama 14 hari untuk memenuhi tantangan RCO 8 membaca kumpulan cerpen fiksi. Sebenarnya bingung juga cari buku, karena yang kupunya itu bukunya Bahjat. Kumpulan cerpen yang bukan fiksi. Karya Bahjat kan ngambil dari kisah yang ada di Al quran. Non fiksi. Itu kata adikku yang guru bahasa Indonesia. So, aku pinjem buku online ini. 




Then, here I am reading Blind Willow Sleeping Woman karya Haruki Murakami. Sastrawan Jepang yang menurutku banyak mengadopsi pemikiran Barat. Trus, ia menggabungkannya dengan gaya penulisannya yang khas. Aroma Jepang berbalut pemahaman budaya global. Amerika.


Pengetahuannya tentang budaya masyarakat Jepang yang membaur dengan budaya Barat menjadikan karyanya bisa jadi referensi bagi yang ingin tahu tentang masyarakat Jepang modern di tahun 90an. Tentu saja dilihat dari kacamata penulis yang kupikir cukup kritis.


Buku digital yang kubaca ini berisi dua puluh empat cerita yang mengekspos dengan detail gimana seorang penulis paham tentang pencarian manusia untuk memecahkan kesepian yang hadir karena penyesalan. Atau tentang bagaimana seseorang bisa tersedot oleh pencarian akan sesuatu yang seolah sia-sia. Meski kesadaran akan kesia-sian itu sendiri disadari dan dipahami sebagai bagian dari hidup. Tak terelakkan. Hingga penerimaan akan hal tersebut adalah keniscayaan.


Dalam cerita awal Blind Willow Sleeping Woman,  Murakami menceritakan tentang seorang pria yang harus menemani kemenakannya ke rumah sakit. Hal unik yang menggelitikku dari kisah ini adalah gimana si pria berdialog dengan keterbatasan pendengaran kemenakannya. 

Ikatan yang dihadirkan dari dua tokoh ini bikin aku mempertanyakan tentang hubungan manusia dengan sekitarnya. Gimana tenggelamnya kita dalam suatu pencarian akan membuat kita lupa tentang arti hidup itu sendiri.


Bahwa kadang yang kita lihat, dengar, dan rasakan mungkin saja berbeda dengan yang sebenarnya. Maksudku, kita diminta lebih membuka diri atas segala perbedaan, atau sesuatu yang mungkin tak lazim di masyarakat.


Sebut saja gimana Murakami menganalisa tentang pemahaman virginity bagi sebagian orang di zamannya. Gimana sebagian menganggap itu sesuatu yang tak begitu penting. Sementara yang lain menganggap virginity sebagai sesuatu yang wajib dipertahankan hingga saat menikah. 


Aku juga bertanya-tanya tentang apa yang tersembunyi dalam cerita "Hunting Knife" yang bertutur tentang pasangan muda Jepang yang berlibur di sebuah pantai yang nggak jauh dari pangkalan militer Amerika. Gimana pasangan ini concern banget dengan tetangga kamar hotel mereka. Keluarga Amerika. Ibu dan anaknya. Kedua orang Amerika itu terlihat begitu kaku dan formal hingga pasangan Jepang ini merasa selalu sungkan. Pasangan muda ini memperhatikan gimana keduanya hanya berada di spot biasa. Si ibu mendorong kursi roda anak. Mereka hanya diam membaca di lobi atau duduk di bawah pohon di pinggir pantai. Sangking perhatiannya, pasangan Jepang ini bertanya-tanya dalam hati karena suatu hari ibu dan anak itu tak ada di spot biasa. Hingga di malam terakhir liburan mereka, si suami sulit tidur dan menemukan pemuda Amerika itu duduk sendiri di atas kursi rodanya. Di situ, pemuda itu menceritakan tentang keadaan dirinya dan keluarganya. Tentang keinginannya menghilangkan ingatannya. Sekaligus meninggalkan sesuatu untuk dikenang.

"... I start to fade away, too. Only the knife is always there - to the very end. Like the bone of some prehistoric animal on the beach. That's the kind of dream I have." (page: 94)

You know what.. I keep sighing when reading this book coz frankly speaking I don't fall into deep thinker category. So, ya gitu. Aku hanya paham sedikit. Itu pun hanya permukaannya aja. Meski nggak ngejar nothingness, seperti tokoh pemuda Amerika ini. 

"I spent my days pursuing the nothingness - rien - it creates. My job is to create that void, that rien." (page: 90)

Rasanya kok kayak nelen pil pahit ya? Seperti titik nol pengharapan.

Aku jadi mikir kalo penulis mau nunjukin kalo pemuda Amerika ini punya segalanya. Sekaligus tak punya apa-apa. Bahkan sekedar harapan pun ingin dihilangkannya.


Ada juga kisah Junpei yang bertemu dengan seorang wanita, Kirie yang usianya lebih tua darinya. Mereka bersama dan saling mengenal tentang diri masing-masing. Passion dan cinta yang mereka miliki. Hingga Junpai menyadari kesendiriannya sebagai penulis. Sementara Kirie ada di tempat tertinggi yang dicintainya. 

Aku sendiri bingung dengan maksud cerita ini. Mungkin itu karena aku selow ya ^^

Never mind. Yang sedikit kupahami adalah sosok Junpei dan Kirie ini seperti gambaran pemuda Jepang yang resah. Gelisah dengan masa depan dan apa yang mereka cari. 

Itu menurutku lho. Sebagaimana orang muda yang mungkin bosan ada di zona nyaman. Ingin sesuatu yang menantang. Agar hidup ini berubah lebih baik. Atau sekedar memuaskan pencarian yang masih terus dicari.


Kelebihan buku 
 
Buku ini keren. Nyastra banget. Mungkin ini yang jadi alasan orang addicted dengan karya Murakami yang dekat dengan kehidupan masyarakat modern Jepang.

Apalagi gaya penceritaannya yang beda dari yang lain. Bikin nggak bosen baca bukunya. Terlebih, gimana dengan terang dan jelas Murakami menceritakan pengaruh modernisasi bagi kehidupan tradisional pemuda Jepang. But, gaes fyi ya.. buku ini bukan untuk konsumsi anak-anak karena gambaran penceritaan tokohnya begitu jujur berkisah tentang kehidupan sehari-hari termasuk hubungan antar lawan jenis. 

Kelebihan buku ini juga adalah gimana kritik yang dilempar oleh penulis dengan humor yang dalam hingga tamparan tak terasa begitu sakit. Mengingatkanku tentang karya sejenis yang juga diminati karena kritik sosialnya seperti Pengakuan karya Anton Chekov. Ah, enggak ngerti banget juga deh. Agak lupa aku hehe. Jadi pingin baca lagi. 

Oya lagi, buku ini terdiri dari dua puluh empat cerita. Kebayang kan gimana bermenit-menit kita bisa tenggelam dalam cerita ini.



Kekurangan Buku

Seperti yang kita ketahui bahwa buku yang nyastra itu pasti berat. So, buku ini pun butuh kerja ekstra untuk memahaminya. Kita perlu baca ini beberapa kali untuk mengerti. Selain itu, bebarapa teks nya bercerita tentang hubungan orang dewasa yang pastinya bukan untuk konsumsi anak-anak.

But, overall gaes.. ini buku bagus. Percaya deh. Yuk baca bareng aku.


Bandarlampung, 2 Juni 2020

No comments:

Post a Comment

Mengenal Sejarah Sebagai Bukti Cinta Tanah Air

Bangsa besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. Begitulah slogan yang kuingat dari pemimpin besar Indonesia, Soekarno. Seorang...